
Gong yang berdiameter 6,3 m dijadikan maskot Bantul Ekpo Tahun 2008. Gong tersebut dibuat oleh pengrajin Gamelan. Pengrajin tersebut adalah Poniman (52) dari Kalinongko, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul yang kini telah terpasang di komplek Pasar Seni Gabusan Jl. Parangtritis Km.9,5. Menurut Kepala Kantor Humas Kabupaten Bantul, Drs. Bambang Legowo, MSi mestinya tidak hanya dilihat semata-mata dari besarnya saja namun yang lebh dari itu adalah makna yang ada di baliknya.
Drs Bambang Legowo, MSi yang juga Ketua Panitia menjelaskan sebagai salah satu elemen dari alat musik gamelan, gong sebagai tanda pembuka dan penutup suatu gendhing (lagu jawa), sehingga secara seremonial sering digunakan pula dalam pembukaan maupun penutupan suatu acara tertentu. Dalam rangkaian alat musik gamelan, selain gong ada alat musik yang mirip gong namun lebih kecil yang dinamakan kempul. Secara filosofi kempul berasal dari kata kumpul atau bersatu kembali untuk besama-sama memasuki harapan atau babak baru dalam kehidupan.
Bambang menambahkan, bagi masyarakat Kabupaten Bantul yang tertimpa musibah gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 yang memakan banyak korban jiwa dan harta benda, dalam waktu dua tahun masyarakat Bantul telah dapat melewati masa tanggap darurat, rehabilitasi rekosntruksi serta rekonsiliasi (rukun kembali) untuk bangkit menatap masa depan yang lebih baik dan dilandasi semangat besarnya kebersamaan, kegotong royongan, kemandirin dan nilai-nilai kearifan lokal seperti guyup rukun, serta jiwa menyatu dalam tekad.
Bahkan Bupati Bantul Drs H Idham Samawi menegaskan dengan adanya event Bantul expo ini ditampilkan 60% hasil kerajinan para pengrajin di Bantul. Untuk itu Bantul Expo dapat dijadikan sebagai ajang promosi potensi yang ada di Kabupaten Bantul. Bahkan Bupati Bantul menargetkan dalam Bantul Expo tahun 2008 akan terjadi omset sebesar 20 Milyar. Target tersebut meningkat dari omset yang didapat tahun kemarin yang sebesar 10 Milyar.
Foto : http://www.flickr.com/photos/yanrf/2713130020/






