You are here:
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Radio Komunitas Angkringan

PROFIL RADIO ANGKRINGAN TIMBULHARJO

Email Cetak PDF
Desa Timbulharjo terletak 8 kilometer arah selatan kota Yogyakarta. Desa ini dihuni
oleh lebih dari 20 ribu jiwa yang tersebar di 16 dusun dan 148 wilayah RT. Corak
masyarakat Desa Timbulharjo tergolong semi urban. Sebagian nilai dan tradisi lama
masih bertahan, namun modernisasi di berbagai bidang juga telah mewarnai
kehidupan warga masyarakat.
Sejak awal tahun 2000, warga Desa Timbulharjo memiliki sebuah media komunitas,
namanya Angkringan. Kata angkringan diambil dari nama warung makan kaki lima
yang banyak berdiri di Yogyakarta sejak tahun 90-an. Bagi warga, angkringan bukan
sekedar tempat makan dan minum, melainkan sebuah media yang bisa mereka
manfaatkan untuk berdialog, bertukar informasi dan mengekspresikan diri dengan
semangat kesetaraan. Media komunitas Angkringan didirikan dengan tujuan
memberi ruang dialog dan bertukar informasi antar warga melalui media. Dengan
kata lain, Angkringan mengemban misi sebagai saluran informasi warga Timbuharjo.
Pada awalnya, media komunitas Angkringan berbentuk buletin cetak yang terbit
mingguan. Dana awal penerbitan buletin Angkringan murni berasal dari hasil
swadaya warga. Dua edisi awal Buletin Angkringan dibagikan gratis kepada warga.
Diluar dugaan, sambutan warga sangat antusias. Bahkan mereka sendiri yang
mengusulkan agar Buletin Angkringan tidak dibagikan gratis namun dengan sistem
berlangganan. Setiap minggu, jumlah pelanggan Buletin Angkringan makin
bertambah, hingga mencapai 500 pelanggan.
Banyaknya permintaan pelanggan baru membuat pengurus Buletin Angkringan
kewalahan. Selain itu, dinamika di masyarakat yang kian cepat tak lagi cukup
diakomodasi melalui media setebal 8 halaman dengan periodisasi terbit sekali dalam
seminggu. Situasi ini direspon oleh pengurus Angkringan dengan meluncurkan
media baru berbentuk radio siaran. Pada bulan Agustus 2000, Radio Komunitas
Angkringan mulai mengudara. Peralatan siaran yang digunakan pada awalnya
sangat sederhana. Biaya pengadaan peralatan siaran diambil dari dana simpanan
dari penjualan buletin Angkringan.
Pada saat yang bersamaan, Buletin Angkringan mendapat penghargaan khusus
tingkat nasional dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Buletin Angkringan dinilai
sebagai pers desa yang mempu menginspirasi tumbuhnya pers yang sehat di
Indonesia. Selain mendapatkan piagam dan trophy, Buletin Angkringan mendapat
hadiah uang sebesar Rp. 2,5 juta. Dana tersebut kemudian digunakan untuk
melengkapi peralatan siaran sehingga kualitas dan daya jangkau siaran Radio
Angkringan menjadi lebih baik.
Sejak tahun 2005, Radio Angkringan bergabung dengan Saluran Informasi Akar
Rumput (SIAR), sebuah kantor media komunitas yang menggunakan teknologi
internet. Sebagai anggota SIAR, stasiun Radio Angkringan dilengkapi dengan
fasilitas internet. Awalnya, fasilitas internet hanya dipakai untuk mengirim dan
mengunduh materi dari SIAR. Dalam perkembangannya, internet di Radio
Angkringan juga dimanfaatkan untuk keperluan lain. Sebagian warga datang ke
Angkringan untuk mencari informasi dari internet berdasarkan kebutuhan mereka.
Misalnya; mencari bahan untuk mengerjakan tugas sekolah, mengirim email, dan
sebagainya.

      Minat warga untuk memanfaatkan fasilitas internet di Angkringan belum bisa
sepenuhnya terlayani. Studio Angkringan hanya buka pada saat siaran yaitu malam
hari dari jam 19.00 sampai 22.00. Kalaupun pada malah hari warga bisa
memanfaatkan internet, mereka juga harus rela mengantri. Soalnya, dari 3 komputer
yang dimiliki Angkringan, dua diantaranya digunakan untuk siaran. Menambah
jumlah komputer di studio Radio Angkringan juga bukan pilihan yang baik. Selain
kapasitas listrik yang terbatas, ruangan studio Angkringan tidak terlalu luas.
Pilihan yang lebih baik adalah mendistribusikan koneksi internet kepada warga.
Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata di setiap RT di Desa Timbulharjo terdapat
2 rumah yang telah memiliki komputer. Karena di Desa Timbulharjo terdapat 148 RT,
maka bisa dikatakan ada 300 warga yang memiliki komputer. Jumlah ini belum
termasuk komputer yang dimiliki oleh beberapa sekolah, pesantren, industri
kerajinan, dan lembaga lain di desa Timbulharjo yang sangat membutuhkan koneksi internet.
Melihat potensi tersebut, pada bulan Agustus 2007 pengurus Angkringan
menggagas rencana untuk menggelar jaringan internet di Desa Timbulharjo. Konsep
yang digunakan mirip dengan model RT/RW net, yaitu mendistribusikan koneksi
internet dalam sebuah wilayah kecil dengan teknologi nirkabel. 
 

Radio Online